Kamis, 29 September 2011

Selamat Berjuang, Kamerad

23.35 wib
Saya sedang mencari-cari channel yang bisa mendukung rencana malam ini untuk berleha-leha, sembari terhanyut oleh alur sebuah film yang biasanya banyak diputar pada jam-jam seperti ini. Ternyata perhatian tersandung pada Metro Realitas, karena sedang mengulas tentang Antasari Azhar.

Kemudian kaki saya silangkan, seraya menyeruput segelas the manis hangat.

Sejak awal beliau ditetapkan sebagai tersangka (1 Mei 2009), rasa dan logika saya berkata, “there is something wrong”. Berbulan-bulan kemudian saya selalu ikuti perkembangan kasus ini. Hingga berujung pada vonis 18 tahun penjara (11 Feb 2010), sebab pembunuhan berencana, dan berlatar belakang cinta segi tiga. Sungguh konyol.

Kenapa harus cinta segitiga !!!

Kala itu, saya pun merasa ada keganjilan pula pada jaksa penuntut umum (JPU) kasus ini, Cirus Sinaga. Walaupun tak ada alasan logis yang menguatkan rasa ketidaksukaan saya. Ternyata benar, akhirnya beliaupun mendekam dibalik jeruji besi, tersandung kasus Gayus Tambunan. Roda kehidupan benar2 berjalan rupanya.

Dan kini, Antasari Azhar kembali berjuang, mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Seiring pula dengan meluncurnya “Testimoni Antasari Azhar”, yang sekaligus menjadi pleidoi beliau, terhadap kasus pembunuhan Direktur PT Rajawali Putra Banjaran Nasrudin Zulkarnaen Iskandar.

Fakta-fakta baru bermunculan. Ahli Forensik, ahli balistik, dan keluarga Almarhum pun seperti tergerak untuk mencari kebenaran, siapa pembunuh sebenarnya. Hingga tambah menguatkan opini saya: Antasari azhar telah dibungkam, dan dipenjarakan. Rasanya seperti sedang membaca cerita mafioso ala Mario Puzo, The Godfather.

Jika melihat kebelakang, memang dibandingkan ketua KPK manapun, sepak terjang beliau lah yang paling membekas di ingatan. Kala itu KPK seperti bertaji sangat-sangat runcing. Hingga besan pak presiden pun tak pelak ia terkam.

The big question is, sebegitu-ngerinya kah korupsi di negeri ini, hingga sang ketua harus di jeruji-besikan? Ada beberapa yang bilang, ini adalah karena kasus IT KPU pada pemilu 2009, yang sedang dikaisnya, kala ia dijadikan tersangka. Sistem IT yang telah melahap anggaran negara 170 M itu, ternyata tidak sempurna. Hingga proses penghitungan suara di KPU molor 10 hari, dari waktu yang telah ditetapkan.

Pikirkan jika hasil perhitungan suara pemilu 2009 itu salah akibat sistem IT yang mahal tapi ngawur, maka stabilitas negeri ini terancam. Sebab, bisa jadi TERNYATA bukan SBY dan partai Demokrat nya yang menang. Jadi tidaklah aneh, jika eksekutor dan beberapa orang yang didakwa terlibat pembunuhan mengaku, bahwa perintah pembunuhan Nasrudin adalah TUGAS NEGARA.


Saya merinding. Sama merindingnya ketika membaca The Godfather. Para mafia politik dan hukum, yang sanggup singkirkan urat-urat humanis, demi kekuasaan. Tidak percaya rasanya, jika hal serupa juga terjadi di negeri ini. Allahualam.

Tapi kembali lagi kepada logika dan rasa, saya lebih memilih untuk percaya, Antasari Azhar  is “unguilty”.
So, goodluck Comrade… and justice for all !!!

Selasa, 28 Desember 2010

Hidup Hanya Sekali (Passengers)

Sehabis nonton film Passengers, merinding…
Terserah mau seberapa orang memberikan rating pada film ini, tapi bagi saya, cerita dan alur film ini mampu mempengaruhi pikiran saya.

Film yang dibintangi Anne Hathaway dan Patrick Wilson ini, bercerita tentang mereka yang tersesat, setelah kematian menjemput. Mereka bahkan tidak mengetahui, bahwa mereka telah mati, sehingga rutinitas sehari-hari tetap mereka jalankan. Tidak ada yang memberi tahu, bahwa mereka telah mati.
Mereka lah yang harus mendapati kenyataan itu sendiri.
Mencari petunjuk jalan sendiri.

Saya jadi berpikir, mungkin saja memang seperti ini nanti.
Mungkin saja kita akan sejenak tersesat dan tidak tahu, bahwa sebenarnya alam kita telah berpindah.
Dan perlahan, akan kita temukan petunjuk, bahwa kita sebenarnya tidak lagi hidup.
Dan tidak bisa meminta kembali hidup.

Yang membuat saya takut adalah ketersesatan itu. Bahkan ketika hidup saja, saya tidak ingin sekalipun tersesat, apalagi setelah mati. Tidak ada tempat bertanya “saya ada dimana?”.
Ketakutan yang kedua, adalah saat dimana kita telah menemukan jalan, yang diawali dengan sebuah kejutan yang menghenyakkan, yaitu mendapati bahwa diri kita telah tiada. Maka rasa sesal yang bertubi-tubi pasti langsung berhamburan datang.
Bahwa selama hidup kita masih berhutang kebahagiaan kepada orang-orang yang kita cintai.
Bahwa kita pernah menyakiti mereka, dan belum sempat terucap maaf.
Bahwa kita sangat mencintai mereka, tapi belum sempat memeluk.
Haaah…tak terbayangkan rasanya jika ini semua terjadi pada saya ketika telah mati nanti.
Saya pasti akan menjadi roh yang paling bersedih.

Tidak.
Saya tidak mau itu terjadi.
Saat ini saya mendapati diri masih hidup.
Maka besok pagi, saya ingin memeluk erat semua orang-orang yang saya cintai.
Dan berlutut dengan penuh penyesalan, dihadapan semua yang pernah saya sakiti.
Karena Hidup benar-benar hanya sekali. 

Senin, 27 Desember 2010

Saya Bukan Muslimah Sejati

Muslimah, sebuah kata yang mulai saya cari maknanya.
Setelah saya tak bisa lagi menerima sikap seseorang yang sudah saya cap “muslimah sejati”.
Cap itu saya berikan padanya karena dia selalu mengenakan jilbab, sholat rajin ke mesjid, tutur kata nya lemah-lembut, berjalan selalu menunduk, dan rumah nya bersih.

Dan ketika suatu hari saya sedang duduk2 bercengkrama dengan para tetangga di sebuah gang sempit, dia lewat,
tetap menunduk,
tanpa ucapan permisi sedikit pun,
padahal jilbab besar yang dikenakannya, menyapu wajah salah seorang tetangga saya.
Kalau kata orang Betawi, itu “gedebong pisang liwat” namanya.

Itulah awal dimana saya mulai berpikir ulang tentang cap baik yang saya berikan padanya.
Kemudian ketika ada seorang bapak pemungut sampah yang rutin mengangkut sampah di rumahnya, dia lewat, menutup hidung, masuk ke rumah, dan sedikit membanting pintu.
Begitu pula ketika seorang pengamen dan pengemis berhenti di depan pintu rumah nya yang sedang terbuka, lagi2 pintu dia banting, tanpa berikan uang sepeser pun.
Padahal setahu saya, dia lah orang yang paling rajin menyumbang uang di mesjid dekat rumah, dengan jumlah yang lumayan besar, dan berkurban setiap tahun.
Dan dia pun memang tidak pernah bergaul dan bertegur sapa dengan para tetangganya.

Ini membuat saya jadi membandingkan dengan diri sendiri, dimana pengetahuan keislaman saya sangatlah dangkal.
Setiap saya bertemu dengan si bapak pemungut sampah, saya selalu bertanya padanya, “apa bapak sehat?”. Bahkan sesekali jika saya punya sedikit uang lebih, saya berikan padanya 5000 rupiah. Tidak banyak. Tidak bisa saya banggakan. Tidak bisa saya sombongkan. Uang itu saya berikan hanya karena terlintas dipikiran “mungkin saja dia belum makan hari ini”.
Saya tak ragu untuk menyentuh tangannya yang berlumuran sampah, untuk memberikannya uang dan bersalaman. Itu membuat tangan saya kotor memang. Berbeda dengan si muslimah sejati yang selalu ingin bersih, karena kebersihan sebagian dari iman.

Kemudian saya pernah dekat sekali dengan seorang pria homoseksual, saya pernah mengunjungi tempat pelacuran dimana teman saya bekerja.
Saya lakukan itu karena saya ingin merubah mereka menjadi orang yang normal.
Saya pun pernah mengunjungi sebuah tempat aborsi di Jakarta, ketika seorang teman tiba2 minta tolong untuk dibawakan nasi bungkus, karena dia lapar, sehabis aborsi.
Saya pun pernah mengkonsumsi narkoba, hanya karena saya ingin membuktikan, bahwa narkoba itu tidak enak dan menyakiti diri sendiri. Ternyata itu terbukti membuat saya memberhentikan beberapa teman dari jerat narkoba.

SAYA YAKIN, SAYA BERDOSA ATAS ITU SEMUA.
Dan terbayang si muslimah sejati tentu “najis”, melakukan itu semua.
Karena dengan pemungut sampah saja dia memalingkan muka,
apalagi dengan manusia2 yang benar2 di cap sampah masyarakat ?

Dan jika atas itu semua saya pun di anggap orang,
BUKAN MUSLIMAH SEJATI,
So be it…

Biarlah Tuhan yang memberikan ganjaran,
atas semua yang pernah saya lakukan.

Yang terpenting adalah berani mengikuti kata hati.
Dan hingga kini saya selalu berusaha memperdalam keislaman,
Insyaallah berusaha selalu melakukan yang paling diwajibkan, sholat 5 waktu.
Tapi saya tetap tak akan berpaling muka,
atas hal-hal yang tidak bisa saya terima di hati kecil ini.

Catatan Sepakbola Indonesia (2)

Mengharap ketenangan pada dingin
dan teduh nya langit malam…

Karena saya sedih,
dan menangis.
Kekalahan itu pahit sekali.

Sehabis kemenangan yang berbaris-baris,
penyisihan 3 kali,
semifinal 2 kali,
langsung diporakporandakan dengan kekalahan telak 3-0,
dalam semalam.
Sakit rasanya…

Untuk membalasnya kembali,
butuh 4-0.
Angka 4 itu boleh lebih, tapi tidak boleh kurang.
Tapi yang angka 0 itu MUTLAK.
Beratkah?
Sangat.

Mengingat lawan hanya butuh untuk bertahan.
Sedangkan kita butuh bertahan, juga sangat butuh menyerang.
Sekali ini jujur saya mengaku,
Saya pesimis.
Bukan sifat saya.
Tapi terkadang rasa itu memang muncul.

Dan apa yang saya dapat dari dingin dan teduh langit malam ini?
Bahwa “kebesaran jiwa” saya dan bangsa ini kembali di uji.

Saya harus ikhlas.
Setelah euforia yang berkepanjangan,
saya harus kembali berpekur diri,
dan mengingat kembali kebelakang.
Bahwa sepakbola negeri ini baru saja bangkit.
Dan bukan berarti harus langsung menang.

Yang penting adalah,
Mematri dalam hati,
Saya harus tetap mencintai mereka,
Dalam menang ataupun kalah.
Karena ini adalah bagian dari jiwa nasionalisme,
Yang harus tertanam kuat, diantara rasa percaya-diri bangsa yang sedang limbung.

Dan yang baik dalam hal ini adalah,
Euforia dan histeria bangsa akan sepakbola belakangan waktu ini,
telah menjadi pil ekstasi.
Yang sesaat membuat lena rakyat.
Mereka bisa lupakan sejenak hiruk pikuk
ekonomi, politik, dan korupsi bangsa ini.
Semua menari, bernyanyi dan bersenang-senang.
Itu terapi yang sangat berguna.
Mengurai beberapa urat saraf yang sudah sangat kusut.
Meluruskan beberapa tulang yang sudah bengkok-bengkok.

Lalu mari kita lihat bersama,
dalam kekalahan ini,
Apakah para politikus itu masih sanggup mencari celah
untuk mendongkrak popularitas?
Apakah para media massa akan terus mengawal ketat pemberitaan
tentang sepakbola Indonesia pada event-event selanjutnya?
Dan akankah,
Para tifosi Garuda masih seperti lautan Merah Putih yang membara?

Akankah,
Gonzales, Bachdim, Utina, Maniani, Nasuha, M. Ridwan,  Bustomi, Hamzah, Maman,
Markus, dan mereka semua…akan selalu menjadi pujaan bangsa?

Dalam kekalahan lah,
Kebesaran jiwa di uji.

Dan kemenangan bukanlah tentang menjadi juara.
Itu adalah tentang,
Sanggupkah kita terus mencintai sepakbola Indonesia ?

Kesanggupan itu, yang akan membuat sepakbola Indonesia berjaya.
Tidak saat ini,
Suatu saat PASTI.